Bahaya Sifat Sombong, Bangga Diri dan Tertipu Dengan Kemampuannya

bangga diriBAHAYA SIFAT SOMBONG, BANGGA DIRI DAN TERTIPU DENGAN KEMAMPUAANNYA

Berkata Syaikh Kholid azh Zhafiri حفظه الله :

Dan diantara penghalang dari menuntut ilmu yang dengannya kita menutup pembahasan ini.

Yang mana penghalang ini juga merupakan efek dari penghalang yang pertama yaitu sirat terburu-buru.

Penghalang yang kita akan bahas adalah sifat sombong, bangga diri dan tertipu dengan kemampuaannya.

  • Ia sudah mampu mentakhrij (menyimpulkan kedudukan hadits) satu atau dua hadits atau bahkan sepuluh hadits.

Kemudian dia menyangka dirinya sudah seperti Syaikh al Bani dan menyangka dirinya sudah mencapai tingkatan yang tinggi didalam ilmu agama ini

  • Dia duduk membacakan (mengajarkan) hadits selama satu, dua atau tiga tahun, kemudian dia mulai mengkritik para Ulama kibar.

Read more

SABAR MENGHADAPI UJIAN HIDUP

ujian hidupSesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki. Allah Ta’ala berfirman : Read more

Perintah Taat kepada Allah, Rasul dan Pemerintah

taat pemerintah“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)

I. Makna Lafadz
: – Berkata Atha’: “taat kepada Rasul dengan mengikuti sunnahnya.”
– Berkata Ibnu Zaid: “(taat kepada Rasul) bila masih hidup.”
– Berkata Ibnu Jarir: “yang benar dari perkataan di atas adalah: ini merupakan perintah dari Allah untuk taat kepada apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Rasul-Nya semasa beliau masih hidup. Adapun setelah beliau wafat, dengan mengikuti sunnahnya.”
– Berkata Abu Hurairah: “mereka adalah Umara’.”
– Berkata Maimun bin Mahran: “para panglima perang di zaman Rasulullah.”
– Berkata Atha’: “para fuqaha (ahli fikih) dan ulama.”
– Berkata Ikrimah: “Abu Bakar dan Umar.” (At-Thabari 4/150-153)
– Berkata Ad-Dhahhak: “mereka adalah para shahabat Rasulullah dan mereka adalah perawi hadits dan para da’i.” (Ad-Durrul Mantsur 2/575)
– Berkata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi: “menurut saya, yang benar adalah mereka itu para Umara dan ulama.” (Ahkamul Qur’an 1/452)
– Berkata Mujahid: “Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
– Berkata Maimun bin Mahran: “kembali kepada Allah adalah kembali kepada kitab-Nya dan kembali kepada rasul-Nya semasa beliau hidup, dan ketika Allah mewafatkannya maka kembali kepada sunnahnya.” (At-Thabari 4/154)
: – Berkata Qatadah: “lebih baik pahala dan akibatnya.”
– Berkata Mujahid: “lebih baik balasannya.” (At-Thabari 4/155) Read more

1 2 3 27