Kembali Kepada Allah


Kembali kepada Allah_KEMBALI KEPADA ALLAH

Penjelasan beberapa mufradat ayat

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari…”

Yang dimaksud hari di sini adalah hari kiamat, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Adapula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hari kematian. Disebutkan “hari” dalam bentuk nakirahdan dikuatkan dengan perintah “wattaqu”, menunjukkan peringatan besar akan terjadinya hari yang mengerikan tersebut yang menyebabkan anak-anak menjadi beruban rambutnya. (Tafsir Al-Alusi,Fathul Qadir, Asy-Syaukani)

“Kamu semua dikembalikan…”

Dibaca turja’una, dengan bentuk majhul. Ini adalah bacaan jumhur. Ada yang membacanya dengan تَرْجِعُوْنَ , dan ini adalah bacaan Abu ‘Amr. Ada pula yang membacanya dengan ya’ menggantikan ta’:يُرْجَعُوْن . Ini bacaan Al-Hasan Al-Bashri. (lihat Fathul Qadir 1/298, Tafsir Al-Alusi 3/54, Tafsir Al-Qurthubi 3/376)

“Apa yang telah dikerjakannya…”

Yang dimaksud “kasb” di sini adalah amalan secara umum. Maknanya adalah balasan dari amalannya, jika amalan tersebut baik maka baik pula balasannya. Jika amalannya buruk, maka keburukan pula yang dia dapatkan. (Tafsir Al-Alusi dan Fathul Qadir)

Ayat terakhir yang diturunkan

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya secarata’liq bahwa beliau Radhiallahu ‘anhu berkata: “Ini merupakan ayat paling akhir yang turun kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.” (HR. Al-Bukhari secara ta’liqKitabul Buyu’, bab Mukil Ar-Riba. Riwayat ini diriwayatkan dengan sanad yang bersambung oleh An-Nasa’i rahimahullah dalam Sunan Al-Kubra (6/307), Ath-Thabarani (11/371 dan 12/23). Al-Imam Al-Bukhari rahihamullah menyebutkan pula secara tersambung dalam kitab tafsir dalam Shahihnya, ketika menjelaskan tafsir ayat ini, dengan lafadz: “Akhir ayat yang turun kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah ayat tentang riba.” (HR. Al-Bukhari no. 4270)

Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya. Sebab ayat tentang riba adalah ayat-ayat yang disebutkan bersamaan dengan ayat ini, yang dimulai dari firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 278-281)

Maka semua ayat ini turun secara bersamaan. (Lihat Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, Manna’ Al-Qaththan hal. 65)

Al-Qurthubi t menyebutkan bahwa ayat ini turun sembilan hari sebelum wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak ada lagi ayat yang turun setelahnya. Beliau rahimahullah berkata: “Ibnu Jubair dan Muqatil berkata: ‘Tujuh malam (sebelum wafat).’ Diriwayatkan pula: ‘Tiga malam’.” Lalu beliau rahimahullah berkata: “Pendapat pertama lebih dikenal, lebih banyak, lebih benar, dan lebih masyhur.” (Tafsir Al-Qurthubi, 3/375)

Hari kiamat itu pasti akan tiba

Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini mengingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang pasti, dimana tidak seorang pun mampu menghindar dari kekuasaan-Nya.

Al-’Allamah As-Sa’di t berkata:

“Ini merupakan ayat terakhir yang diturunkan dari Al-Qur’an. Dimana ayat ini menjadi penutup hukum-hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya. Di dalamnya terkandung janji bagi yang berbuat kebaikan sekaligus ancaman terhadap yang berbuat keburukan. Siapa yang meyakini bahwa dia akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu (Dia) membalasi setiap perbuatan yang kecil dan yang besar, yang nampak dan yang tersembunyi, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala  tidak berbuat zalim sedikitpun. Hal ini menyebabkan rasa takut dan harap dalam diri seorang hamba. Tanpa adanya keyakinan dalam hati akan hal tersebut, tidak akan menimbulkan (rasa takut dan berharap) pada diri seseorang.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, As-Sa’di t)

Al-Qasim bin Abi Ayyub t berkata: “Adalah Sa’id bin Jubair t menangis di malam hari hingga menyebabkan matanya rabun. Aku mendengarkannya mengulang-ulangi ayat ini:

‘Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.’

lebih dari 20 kali.” (Tadzkiratul Huffazh, Adz-Dzahabi 1/76, Siyar A’lam An-Nubala’, 4/324)

Sungguh banyak ayat Al-Qur’an yang memperingatkan hamba-hamba-Nya akan datangnya hari yang besar tersebut. Sepantasnya seorang muslim senantiasa menjadikan hal itu sebagai langkah menuju ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara ayat yang mengingatkan datangnya hari tersebut:

“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.” (Al-Baqarah: 123)

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (Luqman: 33)

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (Ghafir: 18)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan pula bahwa hari kiamat merupakan hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Firman-Nya:

“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).” (Ali ‘Imran: 25)

“Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 26)

“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang mengingkari adanya hari kemudian adalah kafir. Firman-Nya:

Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)

Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?” Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini (nya).” (Al-Jatsiyah: 31-32)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam orang-orang yang tidak beriman dengan hari tersebut dengan kebinasaan, azab yang pedih, dan neraka yang membakarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.” (Yunus: 7)

“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

Telah diriwayatkan dari Aisyah x bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidak seorang pun dihisab (pada hari kiamat) melainkan dia disiksa.” Aku (Aisyah) bertanya, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikanku sebagai tebusanmu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (Al-Insyiqaq: 7-8)

Jawab Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam: “Itu hanyalah diperlihatkan. Siapa yang dihisab dengan teliti maka dia binasa.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hari kiamat telah dekat

Termasuk di antara bentuk peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya tentang hari kiamat adalah kejadian hari kiamat yang sudah semakin dekat. Bahkan termasuk di antara yang menunjukkan semakin dekatnya hari kiamat adalah diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada seluruh manusia sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ هَكَذَا -وَأَشَارَ بِأَصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku diutus bersama (dekatnya) hari kiamat seperti ini”, lalu beliau mengisyaratkan dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Ahmad [5/338], dari sahabat Sahl bin Sa’d z)

Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

مَثَلِي وَمَثَلُ السَّاعَةِ كَمَثَلِ فَرَسَيْ رِهَانٍ

“Perumpamaan aku dan perumpamaan hari kiamat seperti dua ekor kuda yang sedang berlomba.” (HR. Ahmad, 5/331, dari Sahl bin Sa’d z)

Hal ini juga dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam firman-Nya:

ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1)

Terbelahnya bulan telah terjadi di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, dan ini telah disepakati oleh para ulama. (lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini)

Allah juga berfirman:

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).” (Al-Anbiya: 1)

Kiamat itu telah dekat, maka sebelum datangnya hari penyesalan, hendaknya seseorang mempersiapkan bekal di hari yang pasti akan tiba tersebut. Firman-Nya:

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. Sesungguhnya Allah mela`nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Al-Ahzab: 63-68)

Namun yang perlu diketahui, tidak seorang pun mengetahui kapan hari kiamat akan terjadi. Sebab, itu termasuk ilmu ghaib Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diketahui siapapun dari kalangan hamba-hamba-Nya. Firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Demikian pula dalam hadits yang masyhur, tatkala Jibril bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang hari kiamat, beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab:

مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih mengerti dari yang bertanya.” (HR. Muslim dari Umar bin Al-Khaththab z)

Takut terhadap hari kiamat termasuk ibadah

Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk takut akan hari kiamat dan kengerian yang terjadi padanya. Demikian pula takut dari siksaan api neraka yang sangat dahsyat. Ini sekaligus bantahan terhadap kaum Sufi yang menyangka bahwa seseorang tidak boleh beribadah karena takut hari kiamat atau takut neraka. Karena –menurut mereka– ini merupakan bentuk ketakutan seseorang kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah keyakinan yang batil. Sebab, kita diperitahkan untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk rasa takut seorang hamba kepada-Nya adalah takut terhadap segala ancaman-Nya, berupa kengerian di hari kiamat dan siksaan neraka yang amat dahsyat. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kalian dengan neraka meskipun dengan sepotong kurma.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits ‘Adi bin Hatim z)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari segala kesesatan dan segala siksaan-Nya.

Wallahu a’lam.

 

Sumber : Majalah Asy Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *